Tampilkan postingan dengan label Keluarga SaMaRa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga SaMaRa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2013

YUK DIBIASAKAN





Permainan

Cara bermain:
1.Minta anak anda menyatukan kedua tangannya dengan jari saling mengunci. Ibu perhatikan jari mana yang berada di atas.lalu ibu minta anak membuka kembali kedua telapak tangannya,kemudian minta agar anak melipat kembali tangannya namun dengan ibu jari yg sebelumnya di bawah dganti diletakkan di atas. Tanyakan,apakah cara baru tsb terasa nyaman?
2.Minta anak anda coret2 atau menulis sesuatu di kertas,kemudian minta dia melakukan dengan tangan yang sebailknya. Tanyakan, apakah cara baru tsb terasa nyaman?
3.Minta anak anda menyilangkan kakinya di lutut,perhatikan kaki mana yang berada di atas.kemudian minta dia melakukan dengan kaki yang sebailknya berada di atas. Tanyakan, apakah cara baru tsb terasa nyaman?
Jelaskan ,betapa sulit mengubah kebiasaan apabila telah mengakar. Jadi sangatlah penting membangun kebiasaan yang benar dan cerdik sejak kecil. Contohnya adalah membiasakan anak sholat lima waktu. Tanpa adanya pembiasaan sejak kecil,mengerjakan shalat dan amal perbuatan baik lainnya akan terasa sulit kelak setelah anak dewasa. Itulah diantara hikmahnya, Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam bersabda:

“Perintahkanlah anak untuk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 494, dan dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)

Perintah untuk memukul jika enggan menunnaikan shalat bila telah usia 10 th bukan semata-mata untuk menyakiti anak,melainkan agar sejak dini anak terbiasa mengerjakan shalat.

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat


Minggu, 22 Juli 2012

Nasehat Untuk Para Istri


oleh: Ust Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf


A. PENGANTAR

Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya.
Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para ibu-ibu yang memakan daging suami mereka sendiri dalam suasana obrolan mereka dengan lainnya tidak mesti hanya kesalahan suami mereka, bahkan sangat mungkin si suami sudah berbuat yang benar namun si istri lah yang tidak pernah mengerti dan memahami.
Maka pada edisi ini saya tujukan untaian nasehat ini kepada para istri, semoga semuanya bisa menjalankan apa seharusnya dia kerjakan, sehingga yang lainnya akan mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.
Wallohul Muwaffiq
.

B. TERIMA KODRATMU DAN PAHAMILAH POSISIMU

Semoga Alloh merohmati orang yang bisa menempatkan dirinya pada tempatnya yang tepat, saat sebagai suami dia mengetahui bahwa dia adalah seorang suami yang wajib mempergauli istrinya dengan baik, demikian juga tatkala dia sebagai istri, dia mengetahui hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya yang besar dengan benar.
Sangat miris hati ini tatkala ada sebagian istri yang mengatakan :
“Enak ya jadi suami, setiap hari keluar rumah, bisa berganti-ganti suasana, berbeda dengan istri yang setiap hari di rumah dan hanya berkutat dengan dapur dan anak.”
Atau kalimat yang senada
Ketauhilah wahai ukhtil muslimah !!!
Alloh Ta’ala dan Rosululloh telah menempatkanmu pada posisi yang mulia. Perhatikanlah hadits berikut ini :
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : Rosululloh bersabda : “Apabila seorang wanita sholat lima waktu, puasa bulan Romadhon, menjaga farjinya, mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja engkau kehendaki.”
(HR. Ahmad 1664 dengan sanad hasan. Lihat adabuz Zafaf oleh Syaikh Al Albani hal : 286)
Jalan menuju surga, tempat yang penuh dengan ketenangan dan keindahan nan kekal dan abadi telah dibentangkan dihadapanmu, yang salah satu jalanya adalah taat pada suami
Sadarilah olehmu bahwa dimanapun Alloh dan Rosululloh menyebutkan tentang dirimu pasti menyebutkan tentang ketaatan kepada suami. Terlalu banyak ayat dan hadts yang membicarakan tentang ini dan saya kira engkau sudah megetahuinya.
Maka sadarlah, bahwa engkau adalah seorang istri….
Sekali lagi engkau adalah seorang istri yang seharusnya selalu taat kepada suamimu selagi dia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan….
.
C. PAHAMILAH SUAMIMU

Seorang suami telah dikodratkan oleh Alloh untuk menjadi kepala keluarga, dialah yang diberi kewajiban oleh Alloh dan Rosul Nya untuk memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Yang mana hal ini berkonsekwensi wajib bagi dia untuk mencari pekerjaan, yang terkadang pada zaman seperti sekarang ini tidak semua orang mendapatkan usaha yang sesuai dengan bidangnya. Betapa banyak sarjana yang pekerjaanya di luar keahliannya, apalagi lainnya !!!
Sulitnya mencari pekerjaan dan capeknya bekerja diluar rumah bagi sang suami akan terasa ringan kalau didukung secara moril oleh si istri, beban dia akan menjadi sedikit ringan secara psikologis kalau istrinya ikut mendukung dan senang dengan apa yang dia kerjakan sekarang.
Namun kalau kebalikannya? Cobaah bayangkan, kalau suami sudah capek-capek cari pekerjaan, sudah sangat lelah diluar rumah tiba-tiba sampai rumah ditumpuki lagi dengan sikap istrinya yang sangat tidak mengenakkan.
Wahai saudariku ….
Yang harus engkau perhatikan juga, bahwa sebuah pernikahan adalah mengumpulkan dua insan yang berbeda, berbeda dalam jenis kelaminnya, berbeda dalam karakter dasarnya, berbeda dalam latar belakang keluarganya, berbeda dalam latar belakang lingkungan dan pendidikannya, berbeda dalam unsur-unsur yang mempengaruhi jiwa dan pikirannya, dan mungkin berbeda dalam cara pandang dan cita-citanya serta perbedaan-perbedaan lainnya.
Akan sangat mustahi kalau ditemukan sepasang suami istri yang benar-benar sama dalam segala sesuatu.
Siapakah contoh keluarga yang benar-benar kita jadikan panutan ? bukankah keluarganya Rosululloh? Meskipun begitu, apakah selamat dari berbagai macam perbedaan semacam ini ? Tidak wahai saudariku.
Yang bisa dilakukan adalah saling memamami dan menghargai, wahai suami pahamilah istrimu dan wahai istri pahamilah suamimu.
Saat si suami harus keluar malam, saat dia harus meningalkan rumah barang satu mingu atau dua minggu untuk sebuah keperluan yang bermanfaat, maka sadarilah kalau memang itu adalah tugas dan kewajibannya yang butuh dukungan dan kerelaan darimu
Bukankah Rosululloh bersabda :
“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”
(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)
Begitu pula sebaliknya, saat si istri harus ngambek, karena ada sesuatu yang membuatnya tidak senang, maka wahai suami sadarilah bahwa itu adalah pembawaan fithroh wanita yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, yang kalau engkau sikapi dengan keras saat itu maka segera akan patah dan rusak.
Jangan pernah berpikir bahwa salah satu dari suami maupun istri berfikir bahwa yang lainnya harus sama persis dengannya kayak kertas foto copi, karena kalau itu yang engkau inginkan, maka bukannya akan membuatmu senang namun akan semakin sensitif dengan segala perbedaan.
.
D. TEGANYA KAU MAKAN DAGING SUAMIMU SENDIRI

Suatu ketika Rosululloh berjalan-jalan bersama Ummul Mu’minin Aisyah, Lalu Aisyah mengatakan : “Cukuplah bagimu bahwa Shofiyah itu begini dan begitu (maksudnya bahwa dia itu pendek).”
Maka Rosululloh bersabda : “Engkau barusan mengucapkan sebuah kalimat, seandainya dicelupkan ke lautan pasti akan berubah warnanya.”
(HR. Bukhori Muslim)
Perhatikanlah ucapan ghibah yang “tidak seberapa” ini yang dikatakan oleh Aisyah, wanita yang paling dicintai oleh Rosululloh. Namun, beliau tetap mengatakan sebagaimana di atas. Lalu, bagaimana kalau seandainya yang melakukan hal ini adalah seorang istri untuk membongkar aib suaminya sendiri?
Kalau seandainya engkau membongkar aib suamimu untuk mencari sebuah solusi, dengan cara menyampaikannya kepada seseorang yang diperkirakan dapat membantunya menasehati si suami, atau menahan kedlolimannya kalau memang dia begitu, maka itu adalah sesuatu yang sangat baik, sebagaimana pernah dilakukan oleh Hindun Binti Utbah.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
Dari Aisyah bahwasannya Hindun Binti Utbah berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang sangat kikir, dia tidak memberikan kepadaku nafkah yang cukup bagiku dan bagi anakku kecuali kalau saya mengambilnya tanpa sepengetahuan dirinya.”
Maka Rosululloh bersabda : “Ambillah yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”
(HR. Bukhori : 5346, Muslim : 1714)
Alloh Ta’ala menggambarkan bahwa orang yang mengghibah orang lain adalah seperti memakan daging bangkainya, perhatikanlah firman Aloh :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ
Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentunya kamu merasa jijik dengannya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Hujurot : )
Kalau memang begitu tegakah engkau memakan daging bangkai seseorang yang banyak berbuat kebaikan kepadamu ???
.

D. SUNGGUH! HAKNYA ATAS DIRIMU SANGATLAH BESAR…

Bagi yang sedikit saja mengetahui ayat-ayat Alloh dan Sunnah Rosululloh tentang hubungan suami istri, niscaya akan mengetahui bahwa hak suami atas istrinya sangatlah besar. Saya sebutkan beberapa diantaranya sebagai sebuah nasehat dan peringatan bagi semuanya karena memang agama ini adalah sebuah nasehat sebagai sabda Rosululloh kita.
Alloh juga berfirman :
“Berilah peringatan, karena sebuah peringatan itu akan bermanfaat bagi insan yang beriman.”
(QS. Adz Dzariyat : 55)
Di antara hak suamimu yang seharusnya engkau tunaikan adalah :
1. Jagalah kehormatan dan harga dirinya, juga urusilah anak-anak, rumah dan hartanya
Perhatikanlah firman Alloh :
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Wanita yang sholihat adalah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)
Rosululloh bersabda :
“Seorang wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan bertangung jawab atas kepemimpinannya.”
(HR. Bukhori Muslim)
2. Berpenampilanlah yang menyenangkan dihadapannya, senyumlah jangan masam muka, bersikap manislah dan jangan menyebalkan
Rosululloh bersabda :
“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, mentaatimu saat engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.”
(HR. Thobroni dengan sanad shohih, Lihat Shohihul Jami’ : 3299)
Berkata Syaikh Abdul Adhim al Badawi :
“Sesuatu yang sangat mengherankan kalau seorang istri tidak memperhatikan penampilannya dihadapan suaiminya, namun kalau mau keluar dia sangat perhatian dengan penampilannya, sehingga benarlah kalau ada yang mengatakan : “Kera kalau dirumah namun kijang kalau dijalanan 1.” , Wahai hamba wanita Alloh, takutlah kalian kepada Alloh daam hak suamimu atas dirimu.”
3. Jangan izinkan masuk rumahmu seseorang yang dibenci suamimu
Rosululloh bersabda :
“Hak kalian (para suami) atas para istri adalah tidak mengizinkan masuk rumah kalian orang-orang yang kalian benci.”
(Potongan khutbah haji wada’ Rosululloh yang panjang)
4. Jangan bilang kepada siapapun tentang sesuatu yang menjadi rahasia kalian berdua, terutama yang berhubungan dengan urusan ranjang.
Perhatikanlah riwayat hadits berikut :
Dari Asma’ binti Yazid berkata :
“Banyak laki-laki dan wanita yang duduk-duduk bersama Rosululloh, lalu Rosululloh bersabda : “Barangkali ada seorang laki—laki yang menceritakan sesuatu yang dia lakukan dengan istrinya, begitu juga istri barangkali ada yang menceritakan apa yang dia lakukan dengan suminya.”
Saya berkata : “Wahai Rosululloh, demi Alloh, baik suami maupun istri banyak yang melakukannya.”
Maka Rosululloh bersabda : “Janganah kalian lakukan, permisalan orang semacam itu adalah semacam setan yang bertemu dengan setan wanita dijalan lalu berhubungan badan padahal orang-orang melihatnya.”
(HR. Ahmad 16/223 dengan sanad shohih, lihat adabuz zafaf hal : 72)
5. Berusahalah untuk menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, jangan sampai engkau minta cerai tanpa sebuah sebab syar’i.
Dari Tsauban berkata : “Rosululloh bersabda :
“Wanita manapun yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga.”
(HR. HR. Tirmidzi 1199, Abu Dawud : 2209 dengan sanad shohih, lihat Al Irwa’ : 2035)
Rosululloh juga bersabda :
“Wanita yang mengajukan khulu’ (Menggugat cerai) adalah para wanita munafik.”
(HR. Tirmidzi : 1198, Ash Shohihah : 632)
Wahai wanita muslimah…!!!
Inilah hak-hak suamimu atas dirimu, berusahalah untuk menjalankannya, maafkanlah semua kekurangan suamimu, hargailah segala kelebihannya dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan untukmu. Insya Alloh bahtera rumah tanggamu akan berlayar dengan tenang bersama hembusan sepoi-sepoinya angin laut.
Wahai para ibu…!!!
Ajarkanlah kepada putri-putri kalian tentang hak dan kewajibannya atas suaminya kalau dia menikah kelak. Inilah sunnahnya para wanita salafush sholih sebagaimana yang dilakukan oleh Umamah binti Harits terhadap otrinya menjelang pernikahanya.
(Lihat Al Wajiz oleh Syaikh Abdul Adlim Al Badawi hal : 30 dan seterusnya)
.
E. CUKUPLAH BAGIMU GAMBARAN INI

Sebagai kalimat penutup, renungkanlah beberaa kejadian pada zaman Rosululloh ini, semoga Alloh menunjukkan kita ‘tuk meniti jalan yang diridloi Nya :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ *
Dari Abdulloh bin Abi Aufa berkata :
“Tatkala Mu’adz bin Jabal datang dari Syam maka dia bersujud kepada Rosululloh.
Lalu Rosululloh bersabda : “Apa yang barusan engkau lakukan ini wahai Mu’adz ?.
” Mu’adz menjawab : “Saya datang ke negeri Syam dan saya lihat penduduknya sujud kepada pendeta tokoh mereka, maka saya kepingin untuk melakukan hal itu terhadapmu.”
Maka Rosululloh bersabda : “Jangan lakukan itu, seandainya saya memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Alloh pasti saya perintahkan wanita untuk sujud pada suaminya, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan Nya, seorang wanita tidak mungkin menunaikan hak Tuhannya selagi tidak mengerjakan hak suaminya, seandainya suaminya memintanya padahal saat itu sedang berada di dapur maka janganlah menolaknya.”
(Ibnu Majah 1853, dan Ahmad dengan lafadz yang mirip 23950 dengan sanad shohih)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَهْلُ بَيْتٍ مِنَ الْأَنْصَارِ لَهُمْ جَمَلٌ يَسْنُونَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْجَمَلَ اسْتُصْعِبَ عَلَيْهِمْ فَمَنَعَهُمْ ظَهْرَهُ وَإِنَّ الْأَنْصَارَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّهُ كَانَ لَنَا جَمَلٌ نُسْنِي عَلَيْهِ وَإِنَّهُ اسْتُصْعِبَ عَلَيْنَا وَمَنَعَنَا ظَهْرَهُ وَقَدْ عَطِشَ الزَّرْعُ وَالنَّخْلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ قُومُوا فَقَامُوا فَدَخَلَ الْحَائِطَ وَالْجَمَلُ فِي نَاحِيَةٍ فَمَشَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ فَقَالَتِ الْأَنْصَارُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّهُ قَدْ صَارَ مِثْلَ الْكَلْبِ الْكَلِبِ وَإِنَّا نَخَافُ عَلَيْكَ صَوْلَتَهُ فَقَالَ لَيْسَ عَلَيَّ مِنْهُ بَأْسٌ فَلَمَّا نَظَرَ الْجَمَلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ نَحْوَهُ حَتَّى خَرَّ سَاجِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاصِيَتِهِ أَذَلَّ مَا كَانَتْ قَطُّ حَتَّى أَدْخَلَهُ فِي الْعَمَلِ فَقَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ بَهِيمَةٌ لَا تَعْقِلُ تَسْجُدُ لَكَ وَنَحْنُ نَعْقِلُ فَنَحْنُ أَحَقُّ أَنْ نَسْجُدَ لَكَ فَقَالَ لَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ قُرْحَةً تَنْبَجِسُ بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ
Dari Anas bin Malik berkata : “Para keluarga dari kalangan sahabat anshor mempunyai unta untuk mengairi sawah mereka. Namun, ada seekor unta yang tidak mau di tungangi. Lalu, mereka datang kepada Rosululloh seraya berkata: “Kami mempunyai unta untu mengairi sawah namun sekarang tidak mau ditunggani padahal tanaman sudah waktunya diairi.”
Maka, Rosululloh bersabda kepada para sahabatnya: “Bangunlah!”
Akhirnya, mereka pun bangun lalu beliau masuk kebun , dan saat itu unta tersebut sedang berada di pojok kebun.
Lalu, Rosululloh pun berjalan mendekatinya.
Para sahabat anshor berkata: “Wahai Rosululloh, unta itu sekarang sudah mirip dengan aning gola, kami takut anda diserang olehnya.
Maka Rosululloh bersabda : “Dia tidak akan membahayakanku.”
Dan tatkala unta tersebut melihata kedatangan Rosululloh, maka diapun segera berjalan menuju Rosululloh lalu bersujud dihadapannya, maka Rosululloh pun memegang ubun-ubunnya dan unta itupun menjadi sangat jinak untuk bs digunakan bekerja.
Demi melihat kejadian itu, para sahabat berkata : “Waai Rosululloh, kalau binatang yang tidak berakal saja bersujud kepadamu, maka kami yang berakal ini lebih pantas untuk bersujud kepadamu ?.”
Maka Rosululloh bersabda : “Tidak layak bagi seseorang untuk bersujud kepada manusia lainnya, seandainya ada manusia yang layak untuk bersujud kepada lainnya niscaya saya akan memerintahkan waniat untuk sujud kepada suaminya karena hak suaminya yang sangat besar. Demi Alloh, Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, seandainya seluruh badan si suami itu dari ujung rambut sampai ujung kaki terdapat luka bernanah, lalu si istri itu mendatanginya dan menjilatinya maka dia beum bisa menunaikan hak suaminya.”
(Ahmad 12203 dengan sanad sahih, Liha shohihul Jami’ : 3148)
Adakah yang bisa engkau ambil pelajaran dari hadits berharga ini ???

Wallohul A’lam wallohul Muwaffiq

Kamis, 12 Juli 2012

Saat Cemburu Menyapa

Suatu ketika, di malam giliran ‘Aisyah , Rasulullah meletakkan selendangnya, melepas kedua sandalnya, serta meletakkannya di sisi kedua kakinya. Lalu beliau membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidurnya, setelah itu beliau pun berbaring. Tak berapa lama, beliau bangkit lalu mengambil selendangnya dengan perlahan dan mengenakan sandalnya dengan perlahan agar tidak mengusik tidur ‘Aisyah, kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar ‘Aisyah. Setelahnya, pintu ditutup kembali dengan perlahan. ‘Aisyah yang ketika itu disangka telah lelap dalam tidurnya, ternyata melihat apa yang diperbuat suaminya. Ia pun bangkit mengenakan pakaian dan kerudungnya.

Selanjutnya, kita dengar penuturan ‘Aisyah , “Kemudian aku mengikuti beliau, hingga beliau sampai di pekuburan Baqi’. Beliau berdiri lama lalu mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berbalik dan aku pun berbalik. Beliau bersegera, aku pun bersegera. Beliau berlari kecil, aku pun berlari kecil. Beliau berlari lebih cepat, aku pun melakukan yang sama, hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dalam rumah.

Belum lama aku membaringkan tubuhku, beliau masuk. Melihat keadaanku beliau pun berkata, “Ada apa dengan dirimu wahai ‘Aisyah, kulihat napasmu memburu?” Aku menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Beliau berkata, “Beritahu aku atau Allah l yang akan mengabarkan kepadaku.” Aku pun menceritakan apa yang baru berlangsung.

Mendengar ceritaku beliau berkata, “Berarti engkau adalah sosok yang aku lihat di hadapanku tadi?” Aku menjawab, “Iya.” Beliau mendorong dadaku dengan kuat hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu ?” 1

Aisyah berkata, “Bagaimana pun manusia menyembunyikannya, niscaya Allah mengetahuinya, memang semula aku menyangka demikian.”
Rasulullah n menjelaskan, “Jibril datang menemuiku saat itu. Dia memanggilku, maka aku pun menyembunyikannya darimu. Aku penuhi panggilannya. Jibril tidak mungkin masuk ke kamar ini sementara engkau telah membuka pakaianmu. Tadi aku menyangka engkau sudah tidur maka aku tidak ingin membangunkan tidurmu, karena aku khawatir engkau akan merasa sendirian (dalam sepi) dalam kegelapan malam.
Jibril berkata kepadaku saat itu, ‘Sesungguhnya Rabbmu memerintahkanmu untuk mendatangi pekuburan Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya’…” (Sahih, HR. Muslim no. 974)

Masih kisah malam-malam ‘Aisyah. Ia pernah merasa kehilangan Rasulullah , maka ia pun meraba-raba mencari beliau. Ia menyangka beliau pergi ke rumah istri yang lain. Ternyata ‘Aisyah mendapatkan beliau sedang ruku’ atau sujud seraya berdoa:
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.”
‘Aisyah pun berkata, “Sungguh, aku berada dalam satu keadaan, sementara engkau berada dalam keadaan yang lain.” (Sahih, HR. Muslim no. 485)

‘Aisyah juga menceritakan bahwa Rasulullah pernah keluar dari rumahnya pada suatu malam, maka kata ‘Aisyah, “Aku pun cemburu.” Lalu beliau datang melihat apa yang kuperbuat. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai ‘Aisyah, apakah engkau cemburu?” Aku menjawab, “Bagaimana orang sepertiku tidak cemburu dengan orang yang semisalmu?” Beliau berkata, “Sungguh setanmu telah mendatangimu.”2 (Sahih, HR. Muslim no. 2815)

Kebiasaan Rasulullah n bila hendak bepergian (safar) beliau mengundi di antara istri-istrinya siapa yang diajak dalam safar tersebut. Suatu ketika jatuhlah undian kepada ‘Aisyah dan Hafshah, maka keduanya pun keluar bersama Nabi n. Dalam safar tersebut, bila malam telah menjelang, Rasulullah n berjalan bersisian dengan unta yang ditunggangi ‘Aisyah (yang berada di dalam sekedup/semacam tandu yang diletakkan di atas unta, sehingga tidak terlihat orang-orang di sekitarnya) dan beliau berbincang bersamanya. Suatu ketika Hafshah berkata kepada ‘Aisyah, “Tidakkah engkau mau menaiki untaku malam ini dan aku menaiki untamu, hingga engkau bisa melihat dan aku bisa melihat?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” 3

Lalu ia pun menaiki unta Hafshah sementara Hafshah menaiki untanya. Datanglah Rasulullah n menuju unta yang biasa dinaiki ‘Aisyah tanpa mengetahui bahwa di dalam sekedupnya adalah Hafshah, bukan ‘Aisyah. Beliau mengucapkan salam kemudian berjalan bersisian dengan unta tersebut hingga mereka singgah di suatu tempat. ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah n pada malam itu. Ia pun cemburu, hingga ketika mereka berhenti dan singgah di suatu tempat, ‘Aisyah memasukkan kakinya ke dalam rumput-rumputan seraya berkata, “Ya Rabbku, biarkanlah seekor kalajengking atau seekor ular menyengatku. Aku tidak sanggup berkata apa-apa kepada Rasul-Mu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5211 dan Muslim no. 2445)

Para istri Rasulullah sendiri ‘terbagi’ dalam dua kelompok, satu kelompok terdiri dari ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah, dan Saudah. Sedangkan kelompok lain terdiri dari Ummu Salamah, Zainab bintu Jahsyin, Ummu Habibah, Juwairiyah, dan Maimunah4. Kaum muslimin mengetahui bagaimana kecintaan Rasulullah n terhadap ‘Aisyah. Maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada beliau, mereka menanti saat beliau berada di rumah ‘Aisyah. Mengetahui hal tersebut,

berkatalah kelompok Ummu Salamah kepada Ummu Salamah, “Bicaralah kepada Rasulullah agar beliau menyampaikan kepada manusia, ‘Siapa yang ingin memberikan suatu hadiah kepada Rasulullah maka hendaklah dia menyerahkan hadiah tersebut kepada beliau di mana saja beliau berada dari rumah istri-istrinya (jangan hanya di rumah ‘Aisyah)’.”

Ummu Salamah pun menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah n, maka beliau hanya diam, tidak mengatakan sesuatu. Ketika Ummu Salamah ditanyai oleh kelompoknya, ia katakan, “Beliau tidak berkata apa-apa kepadaku.” Mereka berkata, “Sampaikan lagi kepada beliau.”
Ummu Salamah pun menyampaikan kembali keinginan mereka saat gilirannya, namun Rasulullah n tetap diam.

Pada kali yang ketiga, Ummu Salamah kembali diminta untuk menyampaikan keinginan kelompoknya. Ketika itu berkatalah Rasulullah , “Jangan engkau menyakiti aku dalam perkara ‘Aisyah, karena sesungguhnya wahyu tidak pernah diturunkan kepadaku saat aku berada dalam selimut seorang istriku kecuali dalam selimut ‘Aisyah.”
Mendengar pernyataan demikian, Ummu Salamah berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dari menyakitimu, wahai Rasulullah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581)

Mereka pun pernah mengutus Fathimah bintu Rasulullah n untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah, karena mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya5.

Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang ketika itu sedang berbaring bersama ‘Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah pun mengizinkan. Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam permasalahan putri Abu Quhafah (maksudnya putri Abu Bakr, yakni ‘Aisyah).”6

‘Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Sedangkan Rasulullah berucap, “Wahai putriku! Bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”
Fathimah menjawab, “Ya.”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu cintailah ‘Aisyah.”

Mendengar hal tersebut, Fathimah pun bangkit, pamit kepada ayahnya dan berlalu untuk mengabarkan hal itu kepada istri-istri Rasulullah yang lain. Mereka pun berkata kepada Fathimah, “Kami memandangmu sedikit pun belum mencukupi apa yang kami inginkan. Kembalilah kepada Rasulullah dan sampaikan lagi kehendak kami agar beliau berlaku adil dalam permasalahan putri Abu Quhafah.”
Fathimah berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan berbicara lagi tentang permasalahan ini kepada beliau.”

Maka istri-istri Nabi pun mengutus Zainab bintu Jahsyin. Kata ‘Aisyah, “Zainab inilah yang menyamaiku dan menyaingiku di antara mereka dalam kedudukan di sisi Rasulullah n. Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah, paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan serta untuk mendekatkan diri kepada Allah . Kecuali satu kekurangannya, ia cepat marah (emosional) namun ia cepat pula menyadari kemarahannya tersebut dan tidak terus-menerus dalam emosinya.”

Zainab pun meminta izin masuk menemui Rasulullah yang ketika itu berada dalam selimut bersama ‘Aisyah sebagaimana keadaan beliau ketika Fathimah menemuinya. Rasulullah pun mengizinkan. Zainab lalu mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah itu ia mencela ‘Aisyah habis-habisan. ‘Aisyah berkata, “Aku mengamat-amati Rasulullah untuk mencari tahu apakah beliau mengizinkan aku untuk membalas. Terus-menerus Zainab melemparkan kemarahannya terhadapku hingga aku tahu bahwa Rasulullah tidak mempermasalahkan bila aku membela diri.”

Maka ‘Aisyah pun membalas perbuatan Zainab tersebut, hingga ia dapat mematahkan ucapan Zainab dan mengalahkannya. Rasulullah pun tersenyum seraya berkata, “Inilah dia putri Abu Bakr.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 2442, lafadz di atas adalah menurut riwayat Muslim)

Kecemburuan ini juga ada di kalangan para shahabiyyah. Al-Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya para sahabat berkata kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikahi wanita Anshar?” Beliau menjawab,
إِنَّ فِيْهِمْ لَغِيْرَةً شَدِيْدَةً
“Pada diri mereka ada kecemburuan yang sangat.” (HR. an-Nasa’i, 6/69. Asy-Syaikh Muqbil berkata dalam ash-Shahihul Musnad [1/82], “Hadits sahih di atas syarat Muslim.”)

Cemburu Tidak Membutakan Mereka

Kisah-kisah cemburu di atas kita bawakan bukan untuk mencela istri-istri Rasulullah n. Bahkan kita katakan mereka adalah wanita-wanita yang paling mulia. Cukuplah bagi mereka kemuliaan dengan Allah l memilih mereka menjadi pendamping hidup Rasul-Nya yang mulia. Seandainya ulama kita tidak membawakan kisah cemburu mereka dalam kitab-kitab yang kita warisi sampai hari ini niscaya kita pun tidak akan menyinggungnya. Namun karena pada kisah mereka ada pelajaran dan ilmu maka disampaikanlah kepada umat. Sekali lagi bukan dengan tujuan melekatkan aib pada mereka.

Jangan pula kisah mereka dijadikan dalil oleh wanita-wanita sekarang untuk membenarkan tindakan salah mereka dengan dalih cemburu. Jangan pula wanita-wanita itu menolak ucapan baik dari suami mereka yang menasihati mereka dalam masalah cemburu dengan mengatakan, “Istri-istri Rasulullah juga cemburu dan berbuat ini dan itu karena dorongan cemburunya.” Memang benar, mereka (istri-istri Rasul) cemburu dan engkau pun cemburu, namun kebaikan yang ada pada diri mereka tidak didapatkan pada dirimu….

Ketahuilah, bagaimanapun cemburu yang ada di tengah mereka, tidaklah membuat mereka menutup mata dari kebaikan yang ada pada madu mereka. Tidak pula mengantarkan mereka untuk membuat kedustaan guna menjatuhkan madu mereka.
Satu contoh, ketika peristiwa Ifk7, Rasulullah n meminta pendapat Zainab bintu Jahsyin , salah seorang istri beliau, tentang diri ‘Aisyah . Beliau berkata kepada Zainab:
مَاذَا عَلِمْتِ أَوْ رَأَيْتِ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي، وَاللهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ خَيْرًا
“Apa yang engkau ketahui tentang Aisyah dan apa pendapatmu?” Zainab menjawab, “Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku, demi Allah aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 4141)

Lihatlah bagaimana kejujuran Zainab. Cemburunya kepada ‘Aisyah tidak membuatnya lupa akan kebaikan dan keutamaan ‘Aisyah. Demikian pula sebaliknya pada diri ‘Aisyah, ia pernah memuji Zainab, “Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah , paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah .” Padahal Zainab inilah yang menyamainya dalam kedudukan di sisi Rasulullah , sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Dengarkan pula pujian ‘Aisyah terhadap Juwairiyah , salah seorang Ummahatul Mukminin, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang wanita yang lebih besar berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah.” (al-Istiab, 4/1805)

Pujian ini dilontarkan ‘Aisyah ketika Bani Mushthaliq, kaum Juwairiyah, dibebaskan oleh kaum muslimin dari penawanan karena pernikahan Rasulullah dengan Juwairiyah. Pujian ini dengan jujur diucapkan ‘Aisyah padahal sebelumnya ‘Aisyah cemburu kepada Juwairiyah. ‘Aisyah mengatakan, “Juwairiyah adalah wanita yang berparas elok dan manis. Setiap orang yang memandangnya pasti akan terpikat. Aku melihatnya dari balik pintu saat menemui Rasulullah untuk meminta tolong dalam perkara pembebasan dirinya dari status tawanan perang. Ketika itu aku tidak menyukainya karena aku tahu Rasulullah akan melihat keelokannya sebagaimana yang aku lihat.” (al-Isti’ab, 4/1804)

Demikian sedikit contoh dari kejadian yang ada yang menunjukkan bahwa kecemburuan tidaklah membutakan mereka dari kebenaran dan dari melihat kenyataan.
Bandingkan dengan apa yang ada pada diri wanita-wanita yang cemburu pada hari ini… Sungguh cemburu membuat mereka buta. Mereka jatuhkan kehormatan wanita yang mereka cemburui di hadapan suami mereka dan di hadapan orang lain. Bahkan mereka menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama ini guna “menyingkirkan” wanita yang membuat panas hatinya dengan luapan api cemburu. Wallahu al-musta’an (Allah l sajalah yang dimintai pertolongan).

Meredam Cemburu
Kita pasti memiliki cemburu seperti halnya istri-istri Rasulullah n yang mulia. Namun seharusnyalah kita bersabar dengan kecemburuan yang ada pada diri kita dan berupaya meredamnya dengan kesabaran yang indah ini. (Nashihati lin Nisa’, hlm. 161).
Ketahuilah kesabaran itu termasuk buah iman kepada takdir Allah l. (al-Jami’ush Shahih fil Qadar, asy-Syaikh Muqbil, hlm. 11)

Apa pun yang menimpa dan terjadi pada diri kita, semuanya tidak lepas dari ketetapan Allah l dan takdir-Nya. Hendaknya kita sadari bahwasanya semua ketetapan Allah l itu memiliki hikmah, dan hikmah itu terkadang bisa kita ketahui dan pada waktu lain tidak kita ketahui. Allah l sekali-kali tidak berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya. Dia Mahatahu apa yang pantas dan baik bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya baik bagi diri mereka, di dunia mereka dan di akhirat mereka kelak.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

1 Dengan pergi ke tempat istri yang lain sementara malam ini adalah malam giliranmu. Rasulullah n tidaklah mungkin melakukan hal tersebut tanpa izin dari Allah l. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/75)

2 Dengan engkau menyangka bahwa aku pergi ke rumah istriku yang lain, karena itu engkau menyelidikiku. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/72)

3 ‘Aisyah memenuhi permintaan Hafshah karena ia sangat berkeinginan untuk melihat apa yang belum pernah ia lihat. Hal ini menunjukkan ketika dalam perjalanan, unta keduanya tidaklah berdekatan. (Fathul Bari, 9/375)

4 Sedangkan istri beliau yang bernama Zainab bintu Khuzaimah Ummul Masakin xtelah meninggal sebelum beliau menikah dengan Ummu Salamah x, demikian disebutkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat.

5 Namun sebenarnya dalam permasalahan cinta ini, seorang suami tidaklah dituntut untuk berlaku adil terhadap semua istrinya. Ia diperkenankan untuk mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain.
Ibnu Qudamah t berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama bahwasanya tidak wajib bagi seorang suami untuk menyamakan di antara istri-istrinya dalam masalah jima’ (senggama). Ini merupakan pendapat al-Imam Malik dan asy-Syafi’i rahimahumallah. Hal ini karena terjadinya jima’ berawal dari dorongan syahwat dan adanya kecondongan hati, serta tidak akan bisa seorang suami bersikap sama di antara istri-istrinya dalam hal ini, karena hatinya kadang lebih condong kepada salah seorang istrinya lebih dari yang lain. Allah l berfirman:
“Kalian tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara para istri walaupun kalian sangat ingin untuk berlaku adil.” (an-Nisa’: 129)
‘Abidah as-Silmani berkata, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.” Namun bila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam perkara jima’, maka itu lebih baik dan lebih utama. Adalah Nabi n membagi giliran di antara istri-istri beliau dan beliau berlaku adil terhadap mereka. Beliau pernah berkata, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku mampu. Maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang aku tidak mampu.” (al-Mughni, 7/35)
Ibnu Taimiyah t berkata, “Tidak boleh seorang suami melebihkan salah seorang istrinya dalam pembagian. Akan tetapi bila ia mencintai salah seorang istrinya lebih dari yang lain, begitu pula ia menjima’inya lebih dari yang lain, maka tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269)

6 Mereka meminta Rasulullah n menyamakan di antara mereka dalam masalah cinta. (Syarh Shahih Muslim, 15/205)

7 Dalam peristiwa itu, ‘Aisyah dituduh berzina dengan Shafwan ibnul Mu’aththal z sekembalinya Nabi dan para sahabatnya dari perang Bani Mushthaliq. (Mukhtashar Siratir Rasul , asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hlm. 125)..
------------------------------------------------------------

Penulis:
Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah
http://asysyariah.com/saat-cemburu-menyapa-bagian-2.html